Sosok

              Sejak kepergian Devin setahun yang lalu membuat hidup Alena atau yang sering dipanggil Ale ini menjadi suram. Entah kenapa maut memjemputnya di kala mereka berdua sedang meniti sebuah kebahagian. Peristiwa kecelakaan itu sampai saat ini terus saja menghantui pikiran Ale.
            ”Kecelakaan itu...kecelakaan itu, kenapa mesti terjadi, kenapa mesti Devin?”
            ”Apakah ini takdir gue harus terpisahkan dari orang yang gue cintai? Andai gue bisa memilih lebih baik dulu gue membatalkan liburan ke Bali, pasti semua ini nggak mungkin terjadi.” Ale meratapi kesedihannya di dalam sebuah kamar yang besar yang diisi oleh boneka-boneka mungil yang berserakkan dimana-mana.
Tiba-tiba......
            Tok...tok...tok...”Le, ada yang mencari kamu tuh di bawah”, seru mamanya. Mamanya merasa khawatir melihat anak satu-satunya itu, dia jarang sekali keluar rumah apalagi bergaul dengan teman-teman sebayanya.
            ”Hei Fi, udah lama ya? Sorry ya gue baru aja bangun”, ucap Ale dengan wajah lesu dengan pakaian yang acak-acakan.
            Afi terkejut melihat temannya itu baru bangun tidur dan berkata,“Busettttt deh, lo beneran baru bangun tidur? Ini tuh udah jam 11 siang Alena. Emangnya ngapain aja sih lo tadi malam? Begadang?”.
            “Ye itu sih terserah gue fi, mau gue bangun jam 11 siang kek ataupun jam 5 subuh juga itu sih terserah gue. Emangnya apa urusannya sama lo? Kenapa lo yang jadi ribet?”, Ale memotong pembicaraan Afi .
            “Jangan marah-marah dulu dong. Gue datang kesini bukannya mau berdebat ya sama lo, tapi gue datang kesini mau ngajak lo pergi keluar”, ucap Afi sambil mengibaskan tangannya ke arah Ale.
            ”Pergi keluar? Kemana emangnya?”, Ale bertanya kepada Afi.
            Afi pun menjawab,”Ya kita pergi amen ke mall kek, kita nonton atau makan kek. Pokoknya kemana aja deh yang penting kita pergi keluar”. Dengan antusiasnya Afi mengajak Ale pergi karena Afi yang Ale ketahui tuh orangnya senang bergaul apa apalagi bergaul dengan cowok-cowok yang keren, ganteng, ya pokoknya nomor satu deh.
            ”Gimana ya Fi, gue lagi males pergi keluar nih”, Ale menolak ajakan Afi.
            ”Le, sekali-kali keluar rumah kenapa sih? Jangan diam di rumah terus kaya ayam yang lagi ngerem di kandangnya tau nggak”, Afi sewot.
            ”Gue males Fi! Lo tahu sendiri kan gue nggak suka yang namanya pergi keluar?”, Ale memeluk bantal yang ada di sisi kursi ruang tamu rumahnya.
”Lo jangan males gitu dong Le yayayayayaya?”, ucap Afi sambil tersenyum.
“Gue bukannya mau maksa lo Le, gue pengen ngajak lo jalan-jalan cuma itu aja kok. Kayaknya gue liat-liat lo tuh kebanyakan bengonglah, dan ngelamunlah di rumah. Lo tuh perlu refreshing biar pikiran lo itu nyaman dan nggak kacau kaya gini”, ucap Ai dengan tegas.
            Mamanya yang sedang memasak nggak sengaja mendengar pembicaraan Ale dan Afi, kemudian tiba-tiba mamanya itu mendekati mereka berdua.
“Ale, apa yang dibicarakan Afi itu benar. Kamu tuh harus cari suasana segar, kamu butuh teman, butuh hiburan jangan seperti patung yang kerja setiap harinya hanya diam saja. Kamu tuh seorang perempuan, kamu tuh perlu mempunyai seorang pasangan. Jangan kamu terus-menerus memikirkan Devin yang sudah nggak ada, dia sudah meninggal!”, seru mamanya menyetujui pendapat Afi.
            “Iya Le, sejak kepergian Devin lo tuh semakin berubah total. Lo menganggap bahwa cinta sejati lo itu Devin dan lo nggak pernah mau dekat sama cowok-cowok lain. Lo harus sadar kalau Devin tuh udah…….”, ucap Afi.
            Ale menyela pembicaraan Afi dan berkata,”Stop!!! Jangan lo terusin lagi. Gue mohon sebaiknya lo pulang dan tolong jangan ganggu gue dulu”.
            Mamanya terus memperhatikan mereka berdua dan kemudian pergi meninggalkan ke dapur.
            “Gue minta maaf Le, bukan maksud gue untuk ngatur kehidupan lo, gue Cuma ngasih tahu lo aja”, seru Afi dengan nada lesu.
            “Please”, pinta Ale sambil memohon pada Afi.
            “Oke, gue pulang. Bye Le”, ucap Afi sambil membuka pintu ke arah luar dan pergi meninggalkan Ale.
            Sesaat cuaca berubah menikam senja, gemericik hujan membasahi permukaan seluruh kota. Di tengah hujan yang sangat deras, di tepi pepohonan Ale menatap ke arah langit yang berkabut.  Di pinggir jendela Ale berdiri sendiri menangisi keadaannya. 
Beberapa minggu kemudian
            “Ale, tungguin gue di kantin ya”, pinta Suri teman sebangkunya.
            “Oke, tapi cepetan ya soalnya gue mesti buru-buru pulang ke rumah”, ucap Ale.
            “Ngapain sih buru-buru pulang segala? Lagian nggak ada apa-apa ini kan di rumah lo?”, celetuk Suri pada Ale.
            “Udah deh buruan sana”, ucap dengan nada kesal Ale mengomel.
            10 menit berlalu, 15 menit, 20 menit kurang 3 detik Suri belum juga muncul. Ale uring-uringan di kantin tersebut. Dan hampir semua orang memperhatikan tingkah lakunya disana.
            “Busettt deh, gila bener nih anak belum muncul juga”, celetuk Ale.
            Tiba-tiba datang seorang cowok yang bernama Endy menghampiri Ale di kantin, cowok yang udah lama mengincar Ale. Namun sampai saat ini ia belum juga direspon oleh Ale. Endy adalah cowok idola di sekolahnya. Di liat dari fisik aja dia tuh tinggi, putih, ganteng, kapten basket, hidungnya bangir, apalagi bibirnya gila……seksi banget. Pantes aja cewek-cewek di sekolahnya itu naksir sama Endy. Tapi sayangnya, cinta Endy cuma buat Alena seorang.
            “Ale, sendirian aja lo? Gue temenin ya?”, ucap Endy.
            “Eh Endy, sorry ya gue duluan “, ucap Ale sambil meninggalkan Endy dengan tergesa-gesa seperti sedang melihat hantu.
            “Ale...Ale kok malah pergi sih?” teriak Endy dengan bingung.
            Ale berlari ke sebuah parkiran mobil dan ia tidak melihat kalau ada sebuah mobil Jeep di hadapannya. Dan tiba-tiba………
Brug…!!!
            “Auw”, jerit Ale.
            Mobil Jeep yang melintas di hadapan Ale itu berhenti dan tiba-tiba seorang cowok keluar dari mobil itu sambil berlari menuju Ale. Alangkah terkejutnya Ale ketika melihat wajah cowok yang ada di hadapannya itu. Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, semuanya itu sangat mirip dengan Devin. Ale mencubit pipinya  dan ia pun bertanya pada dirinya sendiri “apa ini semua mimpi?”. Tapi ternyata ini semua bukan mimpi, ini kenyataan, sebab Ale merasakan kesakitan dengan cubitannya itu. Tanpa disadari cowok itu terus memandangi Ale dan berbicara padanya, akan tetapi tidak digubris oleh Ale.
            “Kamu nggak apa-apa kan?”, ucap cowok itu.
            “Hallo nona? Nona?”, ucap kembali cowok itu dengan heran dan terus memandang ke arah wajah Ale.
Ale pun tersadar…
            “Oh iya, saya nggak apa-apa kok. Thanks”, seru Ale.
            “Biar saya bantu”, celetuk cowok itu sambil berusaha membangunkan Ale untuk berdiri.
            Ale terus saja memandangi sosok cowok itu, dan berpikir “apa mungkin itu Devin?”. Nggak…nggak mungkin Devin udah meninggal. Kata-kata itu terus terngiang di hati Ale.
            “Thank you, I’m fine”, tegas Ale
            “Kita ke rumah sakit ya?”, pinta cowok itu.
            “Don’t, it’s everything ok.  Lagipula nggak ada yang luka juga kok”, ucap Ale sambil membersihkan pakaiannya itu.
            “Really?”, tanya cowok itu.
            “Sure”, jawab Ale.
            “Kalau begitu saya pergi duluan ya. Maaf kalau saya ninggalin kamu sendirian disini”, ucap cowok itu.
            “No problem”, jawab Ale.
Sepertinya cowok itu sangat terburu-buru…
            “Kamu serius nggak mau saya antar?”, tanya cowok itu lagi.
            “Ya”, jawab ale dengan cepat.
            Tanpa Ale sadari sosok cowok itu telah menghilang dari pandangannya. Jeep itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Ale di jalan. Dan kemudian Ale pun pergi.
            Ada sesuatu yang aneh di dalam diri Ale, tiba-tiba kehidupan Ale muncul kembali. Suasana yang suram berubah menjadi bersinar kembali. Ale sekarang lebih suka keluar rumah daripada harus diam saja bengong di rumah. Ini semua karena sosok cowok misterius itu. Meskipun Ale tak tahu-menahu siapakah dia sebenarnya? Siapakan namanya? Namun Ale nggak peduli, yang terpenting baginya adalah ia dapat menjalani kehidupan barunya kembali dan jangan-jangan Ale jatuh cinta sama sosok cowok itu?
Seminggu kemudian
Tiba-tiba…
Tok…tok…tok (suara pintu)
            “Permisi, anybady home?”, suara di balik pintu.
            Krekkk………Betapa terkejutnya Ale ketika sedang membukakan pintu, ternyata sosok itu muncul lagi dalam pandangan Ale. Bukan hanya Ale yang terkejut, bahkan cowok itupun tak kalah terkejutnya.
            “Kamu? Ini rumahmu?”, cowok itu bertanya.
            “Iya, kenapa emang?”, celetuk Ale.
            “Em…nggak nyangka aja kalau ini rumah kamu”, sela cowok itu.
            “Oh iya gimana keadaanmu, udah baikan”, tegas cowok itu bertanya.
            “Ya seperti yang kamu liat saya baik-baik aja kok. Em…sebelumnya ada apa ya? ”, ucap Ale.
            “Oh iya em…apa kamu punya tangga? Kalau boleh saya mau pinjam”, pinta cowok itu.
            “Oh ambil aja tu hada di samping rumah”, tegas Ale yang begitu cerianya siang itu.
            “Bener nih nggak apa-apa?”, ucap cowok itu.
            “Iya nggak apa-apa kok, pake aja”, celetuk Ale.
            “Saya bawa ya”, sambil berjalan membawa tangga itu.
            Karena terpesonanya pada Ale, cowok itu lupa menanyakan namanya. Padahal hampir 30 menit lamanya mereka bercakap-cakap. Yah namanya juga terpikat semuanya jadi hilang deh hehehe. 3 jam kemudian
            “Permisi?”, sahut cowok itu sambil membuka pagar rumah Ale.
            Dengan cepat Ale membukakan pintu untuk menemui sosok cowok misterius itu. Sampai-sampai mamanya keheranan melihat tingkah laku anaknya itu.
            “Ale…Ale...Tak apalah, lebih baik seperti ini dibandingkan dengan yang kemaren”, ucap mamanya sambil menggelengkan kepalanya.
            “Ini tangganya, terima kasih ya”, ucap cowok itu.
            “Oh iya sampai lupa nama saya Sally, saya tetangga baru kamu di komplek perumahan ini”, celetuk Sally  sosok cowok misterius yang dilihat oleh Ale.
            “You’re welcome. Saya Ale”, sela Ale sambil berjabat tangan.
            “Aneh ya, udah lama ngobrol tapi baru tahu namanya sekarang hehe”, ucap Sally.
            Kedunya tertawa, mereka berbincang-bincang lama sekali sehingga mamanya yang dari tadi  di dalam tiba-tiba menguping pembicaraan mereka berdua.
Sesaat kemudian diambilnya gagang telepon.
            “Hallo…Afi ada?”, suara di balik telepon.
            “Iya Le, ada apa?”, ucap Afi.
            “Eh Fi, gue mau kasih tahu sama lo, tapi lo jangan kaget ya?”, celetuk Ale.
            “Apaan?”, Afi penasaran.
            “Gue……gue ketemu Devin”, tegas Ale.
            “Hah? Apa? Devin? Imposible banget Le! Dia kan udah meninggal, mana mungkin orang yang udah meninggal tuh bisa hidup lagi? Ada-ada aja lo”, celetik Afi.
            “Sorry, maksud gue tuh gue ketemu sama orang yang bener-bener mirip banget sama Devin. Ya pokoknya sama deh semuanya”, tandas Ale meyakinkan temannya itu.
            “Mana mungkin mirip semuanya Le? Mimpi kali lo? Lagian Devin kan nggak mungkin punya kembaran”, sahut Afi.
            “Kalau lo nggak percaya lo datang aja ke rumah gue. Nanti lo liat sendiri deh apa gue bohong atau nggaknya”, sela Ale.
            Karena merasa penasaran sama ucapannya Ale, Afipun keesokannya sehabis pulang sekolah segera langsung ke rumah Ale buat ngebuktiin apa benar semua yang diucapkannya kemarin itu.
Di halaman depan rumah Ale.
            “Nanti lo liat ada mobil Jeep masuk kerumah yang pagarnya warna gold itu”, ucap Ale sambil menunjukkan tangannya ke arah rumah Sally.
Beberapa menit kemudian
Tin……tin……ti………(suara klakson mobil).
            “Nanti lo liat tuh sosok cowok yang gue ceritain itu”, sahut Ale.
            Dan apa yang terjadi, Afi terkejut melihat Sally sosok cowok yang diceritakan oleh Ale kepadanya itu ketika sedang membuka pintu mobilnya. Afi tercengang dan hampir pingsan melihat wajah Sally yang begitu amat mirip dengan Devin.
            “Eh lo jangan pingsan dong. Nanti gue susah gendongnya!”, celetuk Ale.
            “Le, gue nggak mimpi kan? Gue………”, ucap Afi.
            “Yoi coy, lo nggak mimpi kok. Benerkan dia mirip Devin, malah seperti kembarannya lagi”, sela Ale.
            “Iya lo bener Le kali ini. Le gue minta minum ya?”, pinta Afi sambil masuk ke rumah Ale.
            Di dalam rumah Ale menceritakan semuanya kepada Afi. Disana Afi menjadi pendengar yang baik.
            “Le, kalau gue liat-liat Sally itu lebih tua dari Devin deh. Kelihatan sih dari tampangnya, terus cara pakaiannya juga”, ucap Afi.
            “Iya gue juga ngerasanya kaya gitu. Eh mau tahu nggak? Pas waktu gue ngobrol sama Sally, dia kan ngomongnya saya kamu gitu coba hehe ya udah deh gue jawabnya kaya gitu juga. Padahal gue mau ketawa banget abisnya nggak biasa sih, lagian juga aneh gitu. Tapi gue tahan deh, abis takutnya nggak sopan sih”, ucap Ale.
            “Hahahahaha”, Afi hanya bisa tertawa saja.
            Percakapan Ale dan Afi berlanjut sampai malam hari. Suasana rumah itu kembali berseri. Afi memperhatikan temen deketnya itu sambil tersenyum.
Dalam hati kecil Afi muncul pertanyaan,”Mungkin lebih baik seperti ini keadaan Ale daripada dia harus dingin terhadap semua cowok, lagian cowok-cowok itu juga nggak punya salah apa-apa eh malah jadi korban keBT-an Ale. Mungkin dengan kehadiran Sally dapat menambah semangat hidup baru Ale dan menceriakan hari-harinya bersama-sama. Lo harus berterima kasih sama Sally Vin? Berkat Sally kehidupan Ale yang buruk lalu kini menjadi berwarna lagi”.
            Dalam hatinya berkata sambil tersenyum memandang ke arah Ale dan celetuk,”Ale…Ale…gue rasa lo memang bener-bener cinta mati sama Devin. Sebesar itukah lo cinta sama Devin? Mungkin cuma Sally lah yang dapat meluluhkan hati cewek sedingin Alena”.
                                                                                                                                               
                                                                                                                                                            Oleh,
                                                                                                                                                WR. Tamami

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar